Wujudkan CFD Sebagai Destinasi Wisata Belanja & Kuliner, Rico Waas Bakal Tata Zonasi UMKM
Penataan para pelaku UMKM yang berjualan di kawasan Car Free Day (CFD) akan semakin tertata rapi dan profesional. Hal ini terungkap saat Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas menerima audiensi pengurus Paguyuban UMKM CFD Medan (UCM), di Balai Kota, Rabu (14/1/2026).
Dalam pertemuan itu, Rico Waas mengapresiasi semangat kolektif dari para pelaku UMKM. Menurutnya, paguyuban yang lahir dari inisiatif akar rumput seperti UCM memiliki solidaritas yang jauh lebih kuat.
"Paguyuban seperti ini biasanya lebih kuat dan naluriah. Kerjanya jelas, tugas pokoknya juga pasti sudah terbentuk,"kata Rico Waas.
Bukan sekadar mengizinkan berjualan, Rico Waas menginginkan CFD Medan menjadi destinasi wisata belanja dan kuliner yang nyaman. Berdasarkan data yang ada, terdapat 648 UMKM yang terdaftar, dimana sekitar 500 diantaranya aktif setiap pekan berjualan.
Untuk itulah, Rico Waas ingin agar dilakukan klafisikasi berdasarkan jenis usaha, seperti makanan asin, manis, menu sarapan hingga minuman, sehingga dapat terbentuk zonasi yang tertata.
"Kalau zonasinya rapi, pengunjung lebih mudah mencari apa yang mereka butuhkan dan suasana jadi lebih tertib"ujar Rico Waas.
Selain zonasi, Rico Waas juga menekankan pentingnya edukasi terkait labelisasi dan branding produk UMKM agar memiliki daya saing yang lebih kuat.
"Tampilan pengemasan hingga identitas produk perlu ditingkatkan agar dapat naik kelas,"bilang Rico Waas.
Pada kesempatan itu, Rico Waas juga memberikan instruksi kepada Satpol PP agar melakukan pengawasan sehingga tidak ada lagi aktivitas berjualan di seputaran Lapangan Merdeka Medan. Penataan dilakukan demi menjaga fungsi ruang publik dan ketertiban kota.
Sementara itu, Ketua Paguyuban UCM, Nico Andreas menyambut baik arahan tersebut. Dirinya menyebutkan bahwa selama setahun terakhir, para pedagang telah kooperatif berpindah ke lokasi alternatif seperti kawasan Perniagaan, Gwang Ju dan Kumango.
"Sekitar 50 persen anggota kami menggantungkan hidup sepenuhnya dari CFD. Kami sangat berharap dukungan penuh dari Pemko Medan agar UMKM di Medan bisa benar-benar naik kelas," pungkas Nico.
Sumber: Dinas Kominfo Kota Medan
Dalam pertemuan itu, Rico Waas mengapresiasi semangat kolektif dari para pelaku UMKM. Menurutnya, paguyuban yang lahir dari inisiatif akar rumput seperti UCM memiliki solidaritas yang jauh lebih kuat.
"Paguyuban seperti ini biasanya lebih kuat dan naluriah. Kerjanya jelas, tugas pokoknya juga pasti sudah terbentuk,"kata Rico Waas.
Bukan sekadar mengizinkan berjualan, Rico Waas menginginkan CFD Medan menjadi destinasi wisata belanja dan kuliner yang nyaman. Berdasarkan data yang ada, terdapat 648 UMKM yang terdaftar, dimana sekitar 500 diantaranya aktif setiap pekan berjualan.
Untuk itulah, Rico Waas ingin agar dilakukan klafisikasi berdasarkan jenis usaha, seperti makanan asin, manis, menu sarapan hingga minuman, sehingga dapat terbentuk zonasi yang tertata.
"Kalau zonasinya rapi, pengunjung lebih mudah mencari apa yang mereka butuhkan dan suasana jadi lebih tertib"ujar Rico Waas.
Selain zonasi, Rico Waas juga menekankan pentingnya edukasi terkait labelisasi dan branding produk UMKM agar memiliki daya saing yang lebih kuat.
"Tampilan pengemasan hingga identitas produk perlu ditingkatkan agar dapat naik kelas,"bilang Rico Waas.
Pada kesempatan itu, Rico Waas juga memberikan instruksi kepada Satpol PP agar melakukan pengawasan sehingga tidak ada lagi aktivitas berjualan di seputaran Lapangan Merdeka Medan. Penataan dilakukan demi menjaga fungsi ruang publik dan ketertiban kota.
Sementara itu, Ketua Paguyuban UCM, Nico Andreas menyambut baik arahan tersebut. Dirinya menyebutkan bahwa selama setahun terakhir, para pedagang telah kooperatif berpindah ke lokasi alternatif seperti kawasan Perniagaan, Gwang Ju dan Kumango.
"Sekitar 50 persen anggota kami menggantungkan hidup sepenuhnya dari CFD. Kami sangat berharap dukungan penuh dari Pemko Medan agar UMKM di Medan bisa benar-benar naik kelas," pungkas Nico.
Sumber: Dinas Kominfo Kota Medan